Cerpen: Aku Adalah Dosa Yang Ia Doakan Setiap Malam



Tentu, ini dia kisah pendek bergaya dracin yang kamu inginkan: **Aku Adalah Dosa yang Ia Doakan Setiap Malam** Lampu-lampu kota gemerlap menari di mataku, memantulkan kesunyian yang **merajam** jiwa. Di lantai dansa ini, aku, Anya, adalah siluet anggun dalam gaun merah menyala. Sebuah ilusi sempurna, menyembunyikan badai di dalam. Dulu, aku adalah Dunianya. Seluruh jagatnya berputar hanya padaku. Senyumku adalah mentari paginya, tawaku adalah simfoni malamnya. Ia, Lin, mengecup keningku setiap pagi, berjanji akan melindungiku dari segala duka. *Kebohongan manis yang kini terasa seperti pasir di kerongkongan.* Aku mengingat hari itu, ketika ia berlutut di bawah taburan bintang, cincin berlian bergemerlapan di tangannya. "Anya, maukah kau menjadi **cahaya** dalam kegelapanku?" bisiknya, matanya tulus bagai air mata malaikat. Ya, aku mau. Aku sangat mau. Tapi, cahaya itu redup. Pelan namun pasti, senyum Lin berubah menjadi topeng. Pelukannya, yang dulu terasa hangat dan menenangkan, kini bagai **racun** yang membungkus jantungku. Janji-janjinya, yang dulu terukir dalam jiwa, kini menjelma belati yang menikam relung hati. Aku melihatnya, Lin, berpegangan tangan dengan wanita lain, di kafe yang dulu menjadi saksi bisu janji sucinya. *Pengkhianatan itu bagai simfoni kematian yang indah dan memilukan.* Aku memilih diam. Mengumpulkan kepingan hatiku yang remuk, satu per satu. Aku tidak meraung, tidak menangis. Aku adalah Anya, dan aku tidak akan memberinya kepuasan melihatku hancur. Aku akan membalasnya dengan cara yang lebih elegan, lebih menyakitkan. Aku menggandeng pria lain, seorang konglomerat yang lebih berkuasa dari Lin. Aku membiarkan berita itu menyebar seperti api di padang rumput kering. Aku melihat tatapan Lin, **kaget**, **marah**, dan yang terpenting, *penuh penyesalan*. Pada malam pernikahanku, aku menemuinya. Di taman belakang, di bawah rembulan yang kejam, aku berdiri tegar dalam gaun putihku. "Kau tahu, Lin," bisikku, suaraku lembut namun dingin, "aku selalu bertanya-tanya, bagaimana rasanya menjadi dosamu. Sekarang, aku tahu. Rasanya... **memuaskan**." Aku melihat air mata menggenang di matanya. Penyesalan. *Dosa yang abadi, yang akan menghantuinya setiap malam.* Aku berbalik, meninggalkannya dalam kegelapan. Aku tidak membunuhnya dengan belati, tidak mengotori tanganku dengan darah. Aku membunuhnya dengan penyesalan. *Kematian yang lebih pedih dari kematian itu sendiri.* Kisah kita berakhir di sini. Bukan dengan darah, tapi dengan air mata. Bukan dengan amarah, tapi dengan keheningan. Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: 37 Cool Images

Post a Comment

Previous Post Next Post