Aku Menatapmu Dari Bayang-bayang, Dan Tahu Kau Masih Mencari



Baiklah, inilah kisah Dracin penuh nuansa takdir yang kamu minta: **Aku Menatapmu Dari Bayang-Bayang, dan Tahu Kau Masih Mencari** Ratusan tahun berlalu, debu sejarah menutupi nisan-nisan bisu. Di balik tirai waktu, jiwa-jiwa menari, mencari benang merah yang putus. Aku, *Ling Yue*, terlahir kembali sebagai bayangan di balik megahnya kota Shanghai. Aku melihatmu, *Wei Long*, berdiri tegak di puncak kekuasaan, mewarisi takdir yang seharusnya menjadi milikku. Bunga *mei* mekar di taman yang sama, seolah waktu enggan melupakan aroma musim semi itu. Suara pianomu, meski dimainkan di era modern, menusuk jantungku dengan melodi *yang sama persis* dari seratus tahun lalu. Aku mendengarmu memainkannya di balkon rumah keluarga kita yang dibakar habis. Di mataku, bayanganmu adalah *bayangannya*. Dulu, kita terikat sumpah di bawah rembulan: cinta abadi dan kesetiaan tanpa akhir. Kita berjanji untuk saling menemukan, *meski reinkarnasi memisahkan*. Tetapi dosa memisahkan kita, Wei Long. Dosa yang kau lakukan atas nama kekuasaan, dan dosa yang aku lakukan karena mencintaimu. Aku melihatmu gelisah. Kau merasakan kehadiran yang tak kasat mata, mencari dalam setiap tatapan mata. Kau mencari Ling Yue, sosok yang hancur bersama istanamu, bersama cintamu yang dikhianati. Semakin kau menggali masa lalu, semakin jelaslah gambaran *pengkhianatan* itu. Aku menyaksikanmu menemukan surat-suratku yang tersembunyi, lukisan wajahku yang terlupakan, dan puisi-puisi cinta kita yang berdebu. Kau mulai *MENGINGAT*. Rahasia tergelap keluarga Wei Long terkuak: kaulah yang memerintahkan pembantaian keluargaku demi ambisi. Kau menikamku dengan pedang pusaka keluarga, *di bawah rembulan yang sama*. Malam ini, aku berdiri di hadapanmu. Kau menatapku dengan mata yang penuh penyesalan, bertanya mengapa aku tak membalas dendam. Aku tersenyum tipis. Dendam? Bukan itu tujuanku. Aku membalasmu dengan keheningan. Dengan pengampunan yang menusuk hatimu lebih dalam daripada pedang apapun. Aku membiarkanmu hidup dengan *bebannya*. Dengan kesadaran bahwa cinta yang kau hancurkan akan selamanya menghantuimu. Aku berbalik, meninggalkanmu dalam kesunyian. "Mungkin…di kehidupan selanjutnya..." *(Bisikan itu hilang ditelan angin malam Shanghai.)*
You Might Also Like: Cerpen Keren Janji Yang Diucapkan Di

Post a Comment

Previous Post Next Post