Bikin Penasaran: Bayangan Yang Membawa Aroma Darah



**Bayangan yang Membawa Aroma Darah** Senja menyelimuti Kota Terlarang, namun bagi Wei Lan, aroma anyir darah lebih kuat dari wewangian bunga plum yang bermekaran. Ia, gadis pelayan rendahan, selalu merasa **DINGIN** setiap kali melewati Paviliun Anggrek, tempat selirnya yang anggun, Selir Mei, tinggal. *Namun, bukan dingin biasa*. Dingin yang mengalir sampai ke sumsum tulang, dingin yang membangkitkan kenangan yang bukan miliknya. Wei Lan sering bermimpi. Mimpi tentang istana yang megah, intrik yang mematikan, dan seorang wanita yang dicintai Kaisar namun berakhir *dikhianati* di malam yang gelap. Wanita itu… seperti melihat pantulan dirinya sendiri di air. Rambut sehitam malam, mata setajam pedang. Ia adalah Jenderal Wanita yang terkenal, Li Mei, *kebanggaan* kerajaan. Anehnya, ia merasa benci dan cinta yang membara pada sosok Kaisar dalam mimpinya. Kaisar yang menawan namun kejam. Kaisar yang telah memberikan Li Mei segalanya, namun membiarkannya jatuh ke jurang yang gelap. Hari demi hari, potongan-potongan masa lalu itu muncul. Aroma tinta dan bubuk mesiu, suara pedang beradu, tatapan mata seorang *pengkhianat*. Sosok itu selalu tersembunyi dalam bayangan, menyisakan rasa penasaran yang menyiksa. Suatu malam, saat Wei Lan mengantar teh ke Paviliun Anggrek, Selir Mei tersenyum padanya. Senyum yang sama persis dengan senyum Kaisar dalam mimpinya. Senyum yang dingin, *perhitungan*, dan…熟悉 (shúxÄ« familiar). Tiba-tiba, semuanya JELAS. Selir Mei, atau tepatnya, reinkarnasi Kaisar, yang telah memerintahkan eksekusi Li Mei karena *takut* pada kekuatannya. Ia melihat Li Mei sebagai ancaman, bukan pasangan. Dan sekarang, takdir mempertemukan mereka kembali, dalam wujud yang berbeda. Wei Lan tidak berteriak, tidak mengutuk. Ia hanya tersenyum tipis. Kekuatan Li Mei tidak hilang, hanya berubah bentuk. Ia tidak akan membalas dendam dengan pedang dan darah. Ia akan membalas dengan pilihan. Wei Lan, dengan bakat terpendam yang dimilikinya, menarik perhatian Permaisuri. Ia menjadi penasihat kepercayaannya, membisikkan saran-saran yang lembut namun tajam. Perlahan tapi pasti, Wei Lan mengubah kebijakan istana, menguatkan posisi Permaisuri, dan mengikis pengaruh Selir Mei. Pada akhirnya, Selir Mei (Kaisar), terperangkap dalam jaring buatannya sendiri, terpaksa meninggalkan istana dan menjalani kehidupan seorang biarawati. Bukan kematian, melainkan *kehinaan abadi*. Saat melihat punggung Selir Mei menjauh, Wei Lan berbisik pelan, "Janji Li Mei... baru saja dimulai..."
You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama_21

Post a Comment

Previous Post Next Post