Absurd tapi Seru: Kau Berjanji Akan Kembali, Tapi Aku Tahu Janji Itu Kutukan.



**Senja di Lembah yang Terlupakan** Gerimis menggigil membasahi pelataran kuil yang sepi. Hujan selalu begini di bulan Juli, persis seperti saat *kau* mengucapkan janji itu. Janji yang seharusnya menjadi pelita, tapi malah membakar hatiku menjadi abu. "Kau berjanji akan kembali, Lan Wangji," bisik Wei Wuxian, suaranya serak, nyaris tenggelam dalam deru angin. Di tangannya tergenggam erat lentera bambu. Cahayanya meredup, berkedip-kedip seperti harapan yang sekarat. Bayangannya memanjang, *patah*, seolah terbelah menjadi dua bagian yang tak mungkin lagi menyatu. Lima belas tahun. Lima belas tahun ia menunggu. Lima belas tahun ia membiarkan dirinya terkurung dalam siksaan kenangan. Lima belas tahun Lan Wangji tidak pernah muncul. Dulu, cinta mereka seperti mentari pagi, menghangatkan jiwa dan membangkitkan semangat. Wei Wuxian yang ceria dan Lan Wangji yang dingin dan teguh – dua kutub yang saling melengkapi. Tapi kemudian, badai datang. Pengkhianatan, tuduhan palsu, dan malam kelam yang merenggut segalanya. Lan Wangji pergi tanpa sepatah kata pun. Meninggalkan Wei Wuxian yang terluka, sendirian menanggung beban dunia. Janjinya, "Aku akan kembali," menghantuinya setiap malam. Ia melihat ke arah lembah yang dulu menjadi saksi bisu sumpah setia mereka. Sekarang, lembah itu gelap dan sunyi. Pepohonan bambu bergoyang-goyang tertiup angin, suaranya seperti isak tangis. "Kau pikir aku hanya menunggu, Lan Wangji? Kau salah besar." Senyum sinis mengembang di bibir Wei Wuxian. Selama ini, ia tidak hanya menderita. Ia merencanakan. Dengan sabar dan teliti, ia mengumpulkan setiap kepingan kebenaran, setiap bukti pengkhianatan. Setiap malam ia berlatih memainkan seruling Chenqing, bukan untuk menghibur diri, tapi untuk memanggil *arwah* yang akan membantunya. Setiap tetes air mata yang jatuh adalah bahan bakar untuk dendamnya. Lentera di tangannya padam. Kegelapan menyelimutinya. "Pertemuan kita kali ini… akan berbeda, Lan Wangji," bisiknya, nadanya dingin dan tajam seperti pisau. Ia berbalik, melangkah masuk ke dalam kuil yang gelap. Di sana, di altar yang usang, tergeletak sebuah guci kecil berwarna hitam. Di dalamnya tersimpan abu seseorang yang sangat penting baginya. Seseorang yang kematiannya adalah kunci dari segalanya. Ia memandang guci itu, matanya berkilat penuh tekad. "Malam ini, *kebohongan terbesar* akan terungkap… kebohongan tentang siapa sebenarnya **mati** di malam itu."
You Might Also Like: Distributor Kosmetik Bimbingan Bisnis

Post a Comment

Previous Post Next Post