Baiklah, ini dia kisah dracin pendek dengan nuansa misteri dan twist yang kamu inginkan: **Aku Menari di Pesta Kemenanganmu, Tapi Hatiku Sudah Kalah** Lorong istana itu sunyi. Obor-obor menari liar, bayangannya memanjang dan memendek, seolah menertawakan langkah kakiku. Dua belas tahun. Dua belas tahun aku dianggap mati, tenggelam di danau berkabut di kaki Gunung Li. Dua belas tahun *dia* merayakan kemenangannya. Malam ini, adalah puncak perayaan itu. Kekaisaran baru, di tangan Kaisar Li Wei. Di luar sana, suara gemuruh pesta terdengar, sorak sorai dan denting cawan. Aku berdiri di balik pilar, mengenakan topeng sutra putih yang menyembunyikan separuh wajahku. Gaun merah menyala yang kupakai berayun lembut, seolah api yang siap membakar. "Kau datang," sebuah suara memecah keheningan. Kaisar Li Wei. Dia berdiri di ujung lorong, matanya menyipit, menerawang kegelapan. Jubah naganya berkilauan di bawah cahaya obor. "Kupikir kau sudah lama menjadi santapan ikan." Aku melangkah maju. "Ikan tidak menyukai racun, Yang Mulia." Dia tertawa sinis. "Racun? Kau menuduhku?" "Bukankah begitu?" Aku mendekat, setiap langkahku membawa aroma bunga *mei* yang memabukkan. Aroma yang sama yang selalu kusematkan di rambutku, aroma yang *dulu* disukainya. "Bukankah kau yang menginginkan tahta ini dengan begitu *bergairah*? Bukankah kau yang mengatur semuanya?" "Kau tahu aku selalu mencintaimu, Lian Hua." Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menghindar. "Cinta? Cintamu berbau pengkhianatan dan ambisi, Li Wei. Cintamu adalah pedang yang menikamku di malam badai." "Aku melakukannya untuk kita! Untuk masa depan kita!" Aku tersenyum sinis. "Masa depan? Masa depan yang dibangun di atas darah dan kebohongan?" Aku mengangkat tangan, dan dua sosok berpakaian serba hitam muncul dari kegelapan. Mereka adalah bayangan, terlatih untuk membunuh tanpa suara. "Kau pikir aku kembali hanya untuk membalas dendam? Kau meremehkanku." Li Wei terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. "Apa… apa maksudmu?" Aku mengangkat topeng sutraku. Mata Li Wei membelalak. Di mataku, terpancar bukan hanya kemarahan, tapi… penyesalan? Bukan penyesalan untukku, tapi penyesalan untuk dirinya sendiri. "Kau selalu percaya bahwa aku hanya pion dalam permainanmu, Li Wei. Tapi kau salah. Aku adalah pemainnya. Dan kaulah yang menjadi korban." Aku menunjuk dua sosok berpakaian hitam itu. "Mereka adalah saksi bisu. Mereka adalah pelayan setia *permaisuri*." Senyumku melebar, dingin dan mematikan. "Selamat menikmati tahtamu, Kaisar. Karena kekuasaanmu tidak pernah benar-benar menjadi milikmu. Kekuasaan itu… *SELALU* menjadi milik *ibumu*."
You Might Also Like: 0895403292432 Beli Skincare Terbaik