Baik, ini dia kisah dracin berjudul 'Kau Merobek Sumpah, Lalu Memintaku Tetap Percaya': **Kau Merobek Sumpah, Lalu Memintaku Tetap Percaya** BAB 1: Bunga Berlumur Darah Dulu, ia adalah Lin Yuexi, putri kesayangan Jenderal Lin yang namanya disegani di seluruh kekaisaran. Senyumnya semanis madu, hatinya selembut sutra. Ia percaya pada cinta abadi, pada sumpah setia di bawah rembulan. Ia *PERCAYA* pada janji Kaisar muda, Li Wei, yang bersumpah akan menjadikannya permaisuri satu-satunya. Kenyataan menghantamnya seperti badai *dahsyat*. Tahta lebih berharga dari sumpah. Kekuatan lebih menggoda dari cinta. Li Wei menikahi Putri dari Kerajaan Utara, aliansi yang menjamin kekuasaan absolutnya. Yuexi, yang terluka dan dikhianati, dibuang ke sudut istana terpencil, dilupakan, dan diperlakukan lebih buruk dari seorang pelayan. Luka merobek hatinya. Kepercayaan diri hancur berkeping-keping. Kelembutannya terkubur di bawah lapisan es. Namun, di tengah kegelapan dan pengkhianatan, sesuatu yang baru mulai tumbuh: *kekuatan*. BAB 2: Bangkit dari Abu Lima tahun berlalu. Lin Yuexi yang dulu telah mati. Yang tersisa adalah Yuexi yang baru, dingin dan kalkulatif. Matanya yang dulu berbinar kini memancarkan *ketenangan* yang menakutkan. Dia mempelajari politik, strategi, dan segala hal yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di istana yang kejam. Ia merajut aliansi diam-diam, mengumpulkan informasi, dan menunggu *kesempatan*. Penampilannya menipu. Ia tetap anggun, bak bunga lotus di tengah kolam yang tenang. Namun, di balik keanggunan itu, tersimpan rencana yang matang dan kejam. Ia belajar menyembunyikan pedang di balik senyuman, dan meracuni musuh dengan kata-kata manis. Yuexi tidak menginginkan cinta. Ia menginginkan keadilan. Atau, lebih tepatnya, *balas dendam*. BAB 3: Tarian Kematian Yuexi mulai memainkan perannya dengan sempurna. Ia mendekati Kaisar, berpura-pura memaafkan, dan menabur benih keraguan di hatinya. Ia membisikkan kata-kata manis tentang kesetiaan dan cinta yang hilang, sambil diam-diam menghancurkan aliansi sang Kaisar dengan Kerajaan Utara. Setiap langkahnya adalah tarian kematian yang anggun. Ia memanipulasi, merencanakan, dan menyerang dengan presisi seorang jenderal. Istana menjadi arena permainannya, dan para pengkhianat menjadi pion-pion yang bisa ia korbankan kapan saja. Li Wei, yang dibutakan oleh kekuasaan dan keserakahan, tidak menyadari bahwa ia sedang menari di atas jurang kehancuran. Ia melihat Yuexi yang dulu, yang lemah dan penuh cinta. Ia tidak melihat baja di matanya, atau racun di bibirnya. BAB 4: Mahkota Terakhir Puncaknya adalah saat perayaan ulang tahun Kaisar. Yuexi, dengan gaun sutra merah yang berkibar lembut, memberikan pidato yang memukau. Ia memuji Kaisar, mengungkap kebaikan hatinya, dan... membongkar semua kejahatannya di depan seluruh tamu undangan. Kebohongan, pengkhianatan, dan ambisi Li Wei terungkap. Kerajaan Utara menarik dukungan. Para jenderal berbalik melawan. Istana bergolak. Li Wei, yang merasa dikhianati dan dipermalukan, berusaha membunuh Yuexi. Tapi ia terlalu lemah, terlalu lambat. Yuexi, dengan ketenangan yang menusuk, menatapnya dengan mata yang dingin. "Kau merobek sumpahku, Li Wei. Sekarang, rasakan akibatnya." Li Wei kehilangan segalanya. Tahta, kekuasaan, dan harga dirinya. Ia ditinggalkan sendirian, dalam kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Yuexi tidak membunuh Li Wei. Kematian terlalu mudah. Ia membiarkannya hidup, untuk merasakan penyesalan dan kehancuran yang abadi. Yuexi melangkah keluar dari istana, meninggalkan semua intrik dan pengkhianatan di belakangnya. Ia menatap cakrawala, dan merasakan angin menerpa wajahnya. *Ia kini adalah ratu bagi dirinya sendiri.*
You Might Also Like: 65 Kekurangan Sunscreen Mineral Untuk
