Cerpen Keren: Air Mata Yang Menjadi Hujan Pertama



**Air Mata yang Menjadi Hujan Pertama** Lorong istana bergaung sunyi, hanya tetesan air dari atap yang bocor memecah keheningan. Kabut tebal menyelimuti taman belakang, serupa kerudung yang menyembunyikan rahasia kelam yang telah lama terkubur. Xiao Lan, yang dulu dikenal sebagai Putri Zhaoyue, berjalan dengan anggun di antara pilar-pilar batu. Sepuluh tahun lalu, ia dinyatakan tewas tenggelam di Danau Bulan. Namun, kini, ia kembali. Bukan sebagai hantu, bukan pula sebagai arwah penasaran. Ia kembali sebagai *dirinya*, namun dengan tatapan yang sedingin es dan senyum yang semanis racun. Di ujung lorong, Kaisar Cheng, kakak laki-lakinya, berdiri membelakanginya. Jubah naga keemasannya tampak memudar di bawah remang cahaya obor. "Zhaoyue?" Suaranya bergetar, antara harapan dan ketakutan. Xiao Lan berhenti beberapa langkah di belakangnya. "Salam, *Gege* (kakak laki-laki)." Suaranya lembut, namun setiap suku kata terasa seperti jarum es yang menusuk jantung. Kaisar Cheng berbalik, matanya membelalak. "Bagaimana… bagaimana mungkin?" "Danau Bulan memang dalam, *Gege*. Tapi tidak cukup dalam untuk menelan seluruh kebenaran." Xiao Lan mendekat, kabut dingin seolah mengikutinya. "Kau tahu, air mata yang kucurkan saat itu… mereka menjadi hujan pertama setelah kemarau panjang. Hujan yang menyuburkan rencana balas dendamku." Kaisar Cheng mundur selangkah. "Balas dendam? Aku tidak mengerti. Aku berduka atas kematianmu…" "Duka?" Xiao Lan tertawa lirih. "Kau memainkan peran itu dengan sangat baik, *Gege*. Tapi aku tahu siapa yang *memerintahkan* agar aku 'menghilang'. Siapa yang *membutuhkan* pewaris tahta tunggal." Kaisar Cheng menggeleng. "Itu bohong! Itu fitnah!" "Fitnah?" Xiao Lan mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah giok phoenix patah. Giok yang selalu ia kenakan, giok yang *kau sendiri* berikan padanya sebelum 'kecelakaan' itu terjadi. "Apakah ini juga fitnah?" Kaisar Cheng terdiam. Keringat dingin membasahi pelipisnya. "Kau pikir aku lemah, *Gege*. Kau pikir aku hanya seorang putri manja yang bisa kau singkirkan begitu saja. Tapi kau salah. Aku belajar di dalam kegelapan. Aku merencanakan, aku menunggu, aku mempersiapkan diri. Dan sekarang… aku kembali untuk *mengambil* apa yang seharusnya menjadi milikku." Xiao Lan tersenyum, senyum yang membuat Kaisar Cheng menggigil. "Kau tahu, *Gege*, ada satu hal yang belum kau ketahui. Air mata putri bukan hanya menjadi hujan, tetapi juga menjadi *TSUNAMI*." Kemudian, kebenaran terungkap: Xiao Lan, yang dianggap korban, ternyata adalah dalang di balik seluruh tragedi, memanfaatkan setiap langkah yang diambil kakaknya untuk menyempurnakan rencananya. Dan pada saat itulah, Kaisar Cheng menyadari... *dia tidak pernah memegang kendali sama sekali.*
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Skincare Passive

Post a Comment

Previous Post Next Post