Kabut di Gunung Wuyi menyelimuti puncak-puncak batu karang seperti hantu yang bergentayangan. Sunyi. Sepi. Hanya desiran angin yang membawa aroma pinus dan tanah basah. Di lorong batu istana yang remang-remang, lentera-lentera bergoyang pelan, menari dengan bayangan masa lalu. Seorang pria berdiri di sana, punggungnya menghadap, siluetnya tajam melawan cahaya redup. Sosoknya FAMILIAR, namun asing.
"Xue Lian?" suara itu berbisik, memecah keheningan. Putri Mei Lan, dengan gaun sutra putihnya, melangkah mendekat. Matanya, yang dulu dipenuhi cinta, kini hanya menyimpan jejak kelelahan dan kewaspadaan. "Apa benar itu kau? Setelah sepuluh tahun..."
Pria itu berbalik perlahan. Wajahnya, meski tertutup kerinduan yang membayangi, memiliki garis-garis ketegasan yang tidak dikenal. Mata obsidiannya menatap Putri Mei Lan tanpa emosi.
"Sepuluh tahun yang lalu, semua orang percaya Xue Lian telah mati," jawabnya, suaranya HALUS, namun dingin bagai pisau es. "Meninggal karena pengkhianatan."
"Pengkhianatan?" Putri Mei Lan mengerutkan kening. "Siapa yang berani mengkhianati sahabat Kaisar?"
Xue Lian tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Kau ingat janjimu, Mei Lan? Janji untuk menungguku di kuil teratai di hari purnama?"
Putri Mei Lan terdiam. Kenangan itu bagai duri yang menusuk hatinya. Dia tidak pernah pergi. Dia tahu Xue Lian tidak bersalah atas tuduhan korupsi yang dilayangkan padanya. Dia tahu ada konspirasi di balik semua ini.
"Aku menunggumu," bisik Mei Lan, suaranya bergetar. "Tapi kau tidak pernah datang."
Xue Lian melangkah mendekat, aroma cendana dan misteri menyelimuti Mei Lan. "Aku datang, Mei Lan. Aku selalu datang. Hanya saja... WAKTUNYA BELUM TEPAT." Ia berhenti, menatap dalam mata Mei Lan. "Kau tahu, bukan? Kau tahu siapa yang sebenarnya menarik benang-benang ini."
Mei Lan memejamkan mata. Sebuah ingatan melintas di benaknya: senyuman licik Permaisuri, bisikan-bisikan di taman istana, dan surat-surat rahasia yang disembunyikan di balik lukisan naga.
"Permaisuri..." Mei Lan bergumam, terkejut menyadari apa yang sebenarnya terjadi. "Dia yang menjebakmu. Tapi kenapa? Kenapa dia melakukan semua ini?"
Xue Lian meraih tangan Mei Lan, jemarinya dingin dan keras. "Karena dia MENGINGINKAN tahta. Dan aku... Aku terlalu dekat dengan Kaisar."
"Tapi... dia merusak hidupmu!" seru Mei Lan, matanya berkaca-kaca.
Xue Lian tertawa pelan. "Merusak? Kau salah, Mei Lan. Justru dia yang memberiku kekuatan. Dia yang memberiku kesempatan untuk melihat KEBUSUKAN istana ini. Dan kini… saatnya membersihkannya."
Mei Lan menatap Xue Lian dengan ngeri. Mata pria itu berkilat dengan tekad yang mengerikan. "Apa yang akan kau lakukan?"
Xue Lian melepaskan tangan Mei Lan, berbalik menghadap ke arah lorong gelap. "Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Dan Permaisuri akan membayar atas segala dosanya." Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang, menatap Mei Lan dengan senyum yang menakutkan.
"Tahukah kamu, Mei Lan? Sepuluh tahun yang lalu, aku memang dikhianati. Namun, bukan oleh Permaisuri. Melainkan… oleh korban yang terlalu manis untuk ditolak."
Mei Lan terdiam. KAU. KAULAH dalang dari semua ini? Kebenaran itu menghantamnya bagai badai petir. Selama ini, dia telah diperalat. Semua penderitaan, semua air mata, semua penantian... adalah bagian dari rencananya. Xue Lian tidak pernah menjadi korban. Dia adalah bayangan yang selalu menunggu di ujung mimpi, dan kini, mimpi itu menjadi kenyataan yang pahit.
Dan kenyataannya, lebih mengerikan dari mimpi buruk manapun.
You Might Also Like: Rekomendasi Face Wash Lokal Lembut