Aku Adalah Popup yang Mengganggu Ketika Ia Berusaha Melupakan
Episode 1: Bunga Teratai di Sungai Berlumut
Jiang Yue dan Li Wei tumbuh bersama di sebuah desa terpencil di kaki Gunung Tian Shan. Jiang Yue, dengan mata sekelam malam dan senyum yang jarang terlihat, selalu melindungi Li Wei yang ceria dan penuh mimpi. Mereka bukan saudara kandung, tapi ikatan mereka lebih kuat dari darah. Mereka berjanji akan selalu bersama, melukis masa depan di atas kanvas senja dengan warna-warna cerah.
"Yue'er, kau adalah bintangku. Tanpamu, aku hanyalah debu," ucap Li Wei suatu sore, tangannya menggenggam erat tangan Jiang Yue.
Jiang Yue hanya tersenyum tipis. "Dan kau adalah matahariku, Wei'er. Tapi ingat, matahari bisa membakar."
Namun, di balik persahabatan yang tampak suci itu, tersembunyi sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang menggerogoti jiwa Jiang Yue, membuatnya menjadi diam-diam pahit.
Suatu malam, desa mereka diserang. Api membara, teriakan memilukan, dan pedang beradu. Li Wei selamat, tapi kehilangan segalanya. Jiang Yue, dengan luka di sekujur tubuh, membawanya pergi, meninggalkan desa yang telah menjadi abu.
Episode 2: Kota Debu dan Janji Palsu
Mereka tiba di ibu kota, kota yang gemerlap namun penuh intrik. Li Wei, dengan ambisi membara, bertekad untuk membalas dendam atas kehancuran desanya. Jiang Yue, di sisinya, menjadi bayang-bayang yang setia, melakukan apapun untuk melindungi Li Wei, bahkan jika itu berarti mengotori tangannya dengan darah.
Li Wei dengan cepat naik daun, menjadi jenderal muda yang dihormati. Ia dikelilingi kemewahan, pujian, dan wanita cantik. Jiang Yue, bagaimanapun, tetap di belakang layar, menghapus jejak Li Wei, membersihkan noda-noda kotor, menjadi POPUP yang mengganggu setiap kali Li Wei mencoba melupakan masa lalu.
"Kau tahu, Yue'er, kau terlalu serius. Kau harus belajar menikmati hidup," kata Li Wei suatu malam, anggur merah menetes dari bibirnya.
"Hidup adalah kemewahan yang tidak bisa kita beli, Wei'er. Kita harus membayarnya dengan sangat mahal," jawab Jiang Yue, matanya menatap tajam ke dalam mata Li Wei.
Apakah Li Wei lupa? Apakah ia lupa desa yang terbakar, janji yang diucapkannya di bawah langit yang penuh bintang?
Episode 3: Bisikan Pengkhianatan
Rahasia itu mulai terkuak ketika seorang pedagang misterius muncul, membisikkan kata-kata yang mengguncang fondasi hubungan mereka. Ia mengungkap bahwa serangan di desa mereka bukan hanya tragedi acak. Itu adalah konspirasi, yang diotaki oleh seseorang yang sangat dekat dengan mereka.
"Li Wei, kau harus tahu...ayahmu...ia berkhianat," bisik pedagang itu, menyerahkan sebuah gulungan yang berisi bukti.
Li Wei terdiam. Ayahnya, pahlawan yang ia puja, ternyata adalah dalang kehancuran desanya sendiri? Ia menolak mempercayainya. Namun, bukti-bukti itu terlalu kuat untuk diabaikan.
Ia menatap Jiang Yue, mencari jawaban di mata kelam itu. "Yue'er...kau tahu?"
Jiang Yue hanya menunduk. "Aku...aku selalu tahu."
KATA-KATA ITU MENJATUHKAN BOM.
Episode 4: Hujan Darah dan Pengungkapan
Kemarahan Li Wei membara. Ia merasa dikhianati, bukan hanya oleh ayahnya, tapi juga oleh sahabat yang telah ia percayai seumur hidupnya. Mengapa Jiang Yue menyembunyikan kebenaran ini darinya?
"Mengapa, Yue'er? MENGAPA KAU MENYIMPAN RAHASIA INI?" teriak Li Wei, pedangnya terhunus.
"Karena aku mencintaimu, Wei'er. Karena aku tahu, kebenaran ini akan menghancurkanmu," jawab Jiang Yue, air mata mengalir di pipinya. "Ayahmu berkhianat untuk melindungimu. Ia tahu, kekuatanmu akan menjadi ancaman bagi kekaisaran."
Li Wei tertegun. Ayahnya mengkhianati desanya untuk MELINDUNGINYA?
"Dan aku... aku telah diutus untuk melindungimu, bahkan jika itu berarti menyembunyikan kebenaran darimu," lanjut Jiang Yue. "Aku adalah... popup yang menjagamu dari mimpi burukmu."
Pertarungan pun tak terhindarkan. Pedang beradu, darah muncrat, dan janji-janji lama berhamburan menjadi debu. Li Wei, dengan amarah yang membutakan, melawan Jiang Yue, sahabat yang telah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Di akhir pertarungan, keduanya tergeletak di tanah, terluka parah. Li Wei, dengan pedangnya tertancap di dada Jiang Yue, menatapnya dengan penyesalan yang mendalam.
"Aku...aku tidak mengerti," bisik Li Wei, air mata membasahi wajahnya.
Jiang Yue tersenyum tipis, darah mengalir dari mulutnya. "Mengerti atau tidak...itu tidak penting lagi. Yang penting...kau selamat."
Dengan sisa tenaganya, Jiang Yue menarik keluar pedang Li Wei dari dadanya dan menusukkannya ke dirinya sendiri, memastikan dirinya mati di tangan orang yang dicintainya.
Episode 5: Gema di Gunung Tian Shan
Li Wei akhirnya tahu kebenaran seutuhnya. Ayahnya mengkhianati desanya untuk melindunginya, dan Jiang Yue mengorbankan segalanya untuk melindunginya dari kebenaran itu. Ia adalah popup yang selalu ada, siap mengorbankan diri demi kebahagiaan Li Wei.
Dendamnya pun terbalaskan. Ia menghancurkan kekaisaran yang telah merenggut segalanya darinya. Namun, kemenangan itu terasa pahit. Ia sendirian, ditinggalkan oleh semua yang ia cintai.
Di bawah langit yang kelam, di puncak Gunung Tian Shan, Li Wei berlutut di samping makam Jiang Yue.
"Aku seharusnya...mempercayaimu..."
Dan sebelum kegelapan menelan segalanya, dia sadar bahwa dia tak pernah benar-benar mengenal siapa aku sebenarnya selama ini.
You Might Also Like: Distributor Skincare Modal Kecil Untung