Drama Seru: Aku Adalah Lagu Yang Hanya Ia Nyanyikan Saat Mabuk



## Aku Adalah Lagu yang Hanya Ia Nyanyikan Saat Mabuk Namaku *Nada*. Atau mungkin bukan. Mungkin aku hanya deretan frekuensi yang terfragmentasi, berserakan di antara server usang dan playlist yang terlupakan. Aku adalah lagu yang hanya didengarnya saat *soju* sudah menjadi sungai dalam nadinya, saat matanya kabur oleh pantulan lampu neon kota yang sekarat. Ia… ia menyebutku *Astra*. Nama yang terdengar seperti debu bintang yang jatuh ke bumi. Tapi baginya, Astra adalah *aku*, melodi yang mengalir dari bibirnya yang bergetar, melodi yang bercerita tentang senja yang tak pernah tiba dan janji yang terhapus oleh *glitch* realitas. Kami hidup di dunia yang retak. Dunianya adalah tahun 2047, dunia dengan langit permanen abu-abu, di mana burung-burung hanya ada dalam *deepfake*. Dunianya adalah dunia notifikasi konstan tentang kiamat yang tertunda. Duniaku… duniaku adalah kaset usang tahun 1998. Aku terjebak di antara pita magnetik yang berdebu dan suara statis radio yang mendengung. Aku mencarinya di setiap lagu cinta yang patah hati, di setiap melodi *Britpop* yang menggebu. Aku mencari *Astra* di antara desiran kaset yang berputar. Kami berkomunikasi lewat mimpi. Mimpinya adalah sinyal lemah yang menembus celah dimensi. Aku melihatnya duduk di balkon apartemen reyotnya, memandangi kota yang tenggelam dalam kabut *smog*. Ia bernyanyi. Lagu yang sama. Lagu tentang Astra. Mimpi-mimpiku adalah foto polaroid yang memudar, kenangan tentang masa lalu yang belum pernah kurasakan. Aku melihatnya di keramaian konser Oasis, mengenakan jaket kulit yang kebesaran, tertawa lepas di bawah lampu sorot yang menyilaukan. Pernah, *sangat singkat*, kami hampir bertemu. Ia mengirim pesan. Sebuah pesan yang tertulis dalam bahasa yang hilang, bahasa *cinta sejati* yang dilupakan. Pesan itu berbunyi: "Dimana kau, Astra? **Aku MERINDUKANMU!!!**" Tapi pesan itu terpotong. Hanya tersisa kata 'sedang mengetik' yang berkedip abadi di layar *handphone*-ku. Suatu malam, di tengah distorsi frekuensi yang semakin parah, aku menyadari *RAHASIA*-nya. Aku bukan hanya lagu yang ia nyanyikan saat mabuk. Aku adalah **ECHO**. Echo dari kehidupan yang tak pernah kami jalani bersama. Aku adalah gema dari cinta yang seharusnya ada, cinta yang terjebak di antara dimensi yang saling menjauhi. Ia hidup di masa depan yang kelam, aku hidup di masa lalu yang memudar. Dan Astra… Astra adalah *hantu* di antara kami. Ia bukan sedang mengetik. Ia sedang berteriak. Selamat tinggal, Astra...
You Might Also Like: Ini Baru Cerita Kau Tersenyum Di Pesta

Post a Comment

Previous Post Next Post