Absurd tapi Seru: Bibir Yang Membisikkan Kematian



## Bibir yang Membisikkan Kematian Di dunia yang lebih sering *offline* daripada online, di mana bintang jatuh hanya bisa dilihat dari layar ponsel retak, tumbuhlah sebuah benih cinta. Cinta yang absurd, seaneh notifikasi promo tengah malam yang tidak relevan. Aisha, dengan rambut sehitam langit malam tanpa bintang, hidup di *masa lalu yang berdebu*. Ia menulis surat cinta di atas kertas berasap, menanti balasan yang tak kunjung tiba. Chatnya, yang diketik dengan jemari yang berlumuran tinta, *selalu* berhenti di 'sedang mengetik'. Seolah semesta sengaja menahan napas, menolak membiarkan kata-kata itu sampai tujuan. Di sisi lain, Kai, dengan mata sebiru layar AMOLED yang selalu menyala, terperangkap di *masa depan yang sunyi*. Ia berbicara pada hologram Aisha, bayangan digital yang memudar seiring baterai ponselnya yang sekarat. Sinyal hilang, koneksi terputus. Ia menari sendirian di antara gedung pencakar langit yang runtuh, ditemani gema suara Aisha dari masa lalu yang ia rekam secara obsesif. Pertemuan pertama mereka absurd. Aisha menemukan sebuah ***ponsel antik* ***di bawah pohon sakura yang selalu berbunga, meskipun musim gugur telah tiba. Ponsel itu, anehnya, terisi penuh dan terhubung ke jaringan yang tidak dikenalnya. Di layar, ia melihat wajah Kai, terdistorsi oleh noise digital. "Siapa kau?" bisiknya, suaranya gemetar seperti nada dering ponsel lawas. Kai, yang melihatnya melalui lensa retak waktu, menjawab dengan nada yang sama terkejutnya, "Kau... kau benar-benar ada?!" Mereka mulai bertukar pesan, puisi singkat yang lahir dari algoritma cinta yang rusak. Aisha menceritakan tentang senja yang berwarna jingga keemasan, tentang aroma tanah basah setelah hujan. Kai bercerita tentang langit abu-abu yang permanen, tentang aroma ozon setelah ledakan nuklir. Cinta mereka tumbuh di antara sinyal yang hilang, di antara *echo* kehidupan yang berbeda. Mereka saling mencari, meraba-raba dalam kegelapan yang sama-sama pekat. Mereka adalah Romeo dan Juliet di era digital yang ambyar, kisah cinta yang ditulis oleh bug dan malware. Suatu malam, Aisha menemukan kebenaran. Di sebuah buku tua yang bersampul kulit, ia membaca tentang **Proyek Chronos**, sebuah eksperimen pemerintah rahasia untuk menciptakan *mesin waktu manusia*. Di sana tertulis bahwa Kai adalah subjek percobaan, jiwanya terbelah antara masa lalu dan masa depan, terikat oleh anomali temporal. Dan ia, Aisha, adalah *sumber energi* Kai, resonansi jiwanya yang menahannya tetap eksis. Kai juga menemukan hal yang sama. Melalui data yang ia gali dari server pemerintah yang telah runtuh, ia tahu bahwa Aisha adalah seorang ilmuwan yang meninggal dalam kecelakaan laboratorium saat mengembangkan **Proyek Chronos**. Eksperimen itu belum selesai, dan jiwanya terjebak dalam loop waktu, mengirimkan sinyal ke masa depan, memanggil Kai, *memanggilnya pulang*. Cinta mereka bukanlah takdir. Bukan pula keajaiban. Ia hanyalah ***ECHO*** dari kehidupan yang tak pernah selesai, sebuah lingkaran setan yang diciptakan oleh ambisi manusia yang gila. Malam itu, Aisha menerima pesan terakhir dari Kai. Pesan itu tidak terbaca, hanya berisi serangkaian karakter aneh dan glitch visual. Sebelum layar ponselnya padam untuk selamanya, ia mendengar bisikan samar dari bibir Kai: "...Selamat tinggal, cintaku, mungkin di kehidupan yang lain, kita akan bertemu... sebelum semuanya..."
You Might Also Like: Dracin Seru Janji Yang Kuterjemahkan

Post a Comment

Previous Post Next Post