Harus Baca! Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah



**Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah** Hujan turun di Wuzhen malam itu, serupa air mata yang tak henti-hentinya tumpah. Aku berdiri di bawah atap koridor berukir, menatap sungai yang keruh. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku memendam rasa, menjaga jarak, membangun tembok setinggi Tembok Besar agar hatiku tak remuk redam di bawah tatapan matamu, *Lin Wei*. Dulu, kau dan aku berjanji di bawah pohon kamelia mekar di halaman belakang rumahku. "Kita akan selalu bersama, *Mei Hua*. Selamanya." Kata-katamu terucap ringan, semanis madu. Aku, yang masih remaja dan polos, percaya sepenuhnya. Lalu, tawaran ke London datang. Kesempatan emas untukmu, beasiswa penuh di Royal Academy of Music. Matamu berbinar penuh ambisi, dan aku, dengan bodohnya, mendorongmu pergi. Aku rela menanggung perihnya ditinggalkan demi impianmu. "Pergilah, Lin Wei. Aku akan menunggumu." Bodohnya aku. Sepuluh tahun berlalu. Kau kembali, Lin Wei. Lebih tampan, lebih sukses, dan… bersama wanita lain. Seorang pianis terkenal, bergelar bangsawan, yang menggandeng lenganmu seolah kau adalah miliknya. Senyummu, dulu hanya untukku, kini terbagi untuknya. Malam ini, di bawah rinai hujan Wuzhen, kita bertemu. Kau menyapaku dengan canggung, "Mei Hua… sudah lama sekali." Aku hanya tersenyum pahit. "Lama sekali, Lin Wei. Hingga aku hampir lupa bagaimana rasanya menunggumu." Kau mencoba menjelaskan, tentang karier, tentang takdir, tentang betapa sulitnya menjagaku dari jarak ribuan kilometer. Kata-katamu terdengar hampa, seperti nada-nada yang kehilangan jiwanya. *KAU MELANGGAR JANJI!* Jeritan itu hanya bergema di dalam hatiku. "Aku bahagia melihatmu sukses, Lin Wei," ujarku akhirnya, suaraku setenang air sungai. "Tapi kebahagiaanku tidak bersamamu." Kau menatapku dengan penyesalan. Penyesalan yang terlalu terlambat. Setahun kemudian, sebuah artikel muncul di majalah musik terkemuka. "Skandal di Dunia Musik Klasik: Istri Pianis Terkenal, Lin Wei, Terlibat Kasus Plagiarisme!" Di dalamnya terungkap, lagu-lagu indah yang selama ini ia klaim sebagai karyanya, ternyata adalah gubahan pianis lain yang ia bayar untuk diam. Lin Wei, kariermu hancur. Reputasimu tercoreng. *TAKDIR* rupanya memiliki cara tersendiri untuk menuntut keadilan. Aku tidak melakukan apa pun. Hanya duduk diam, menikmati secangkir teh melati di bawah pohon kamelia yang kembali mekar. Sungai mengalir dengan tenang. Aku tahu, suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi. Dan saat itu, aku akan bertanya, apakah kau akhirnya mengerti rasa sakitnya menunggu, rasa sakitnya janji yang dilanggar? Apakah dendam ini manis atau pahit, aku sendiri tak tahu, tapi aku yakin… *semua ada harganya*.
You Might Also Like: 84 Perbedaan Skincare Lokal Dengan

Post a Comment

Previous Post Next Post