**Tangisan yang Menjadi Lantunan Sunyi** Lorong istana *sunyi* bagai kuburan. Hanya gema langkah kaki Han Ruolin, sang putri yang kembali dari kematian, yang memecah keheningan. Kabut tipis menyelimuti dinding-dinding berlumut, menyembunyikan rahasia kelam yang terlalu lama dipendam. Dulu, ia dikenal sebagai putri yang lemah lembut, namun kini, aura dingin dan tekad baja terpancar dari matanya. Dua belas tahun lalu, Ruolin tenggelam di Danau Bulan. Semua meratap, Kaisar bahkan jatuh sakit karena kehilangan. Jenazahnya tak pernah ditemukan, dan istana berkabung dalam kesunyian abadi. Kini, ia berdiri di hadapan Kaisar, ayahnya sendiri, yang menatapnya dengan mata penuh keterkejutan dan… ketakutan. "Ayahanda," bisiknya, suaranya *lembut* namun menusuk, "Apakah Ayahanda merindukanku?" Kaisar batuk, tangannya gemetar memegang cangkir teh. "Ruolin… ini… mimpi? Atau… hantu?" Ruolin tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Bukan mimpi, Ayahanda. Aku kembali untuk meluruskan *sejarah*." Dialog mereka berlanjut dalam nada serupa: lembut namun tajam, penuh sindiran dan kebenaran yang setengah tersembunyi. Ruolin menceritakan pengalamannya selama dua belas tahun: diselamatkan oleh seorang pertapa di pegunungan terpencil, dilatih dalam seni bela diri dan strategi perang, dan belajar tentang konspirasi yang merajalela di istana. "Paman, Perdana Menteri Zhao, dialah yang memerintahkan pembunuhanku," kata Ruolin, menatap tajam ke arah Kaisar. "Dia ingin menyingkirkanku agar putrinya, Zhao Meiling, bisa menjadi *PERMAISURI*." Kaisar terhuyung. "Tidak mungkin… Zhao adalah sahabatku…" Ruolin mendekat, suaranya hampir berbisik. "Sahabatkah, Ayahanda? Atau *boneka*?" Malam itu, kebenaran terungkap. Ruolin memang nyaris tenggelam, namun bukan Zhao Meiling yang mendorongnya ke danau. *RUOLIN SENDIRILAH* yang melompat. Dia tahu Zhao Meiling dan Perdana Menteri Zhao ingin menyingkirkannya, tapi dia juga tahu bahwa Kaisar terlalu lemah untuk bertindak. Jadi, dia merencanakan *SANDIWARA* kematiannya sendiri, melatih diri, dan kembali untuk membalas dendam… dan *mengambil kendali*. Di akhir percakapan mereka, Ruolin berdiri tegak, bayangan obor menari di wajahnya. Kaisar terduduk lemas di singgasananya, tatapannya kosong. "Ayahanda," kata Ruolin, suaranya kini dipenuhi *kekuatan*, "sekarang Ayahanda mengerti. Akulah yang memegang kendali sejak *awal*." Ruolin berbalik, meninggalkan Kaisar dalam kesunyian lorong istana. Dan di tengah kabut pagi yang merayap, terungkaplah bahwa korban yang meratap dalam tangisan adalah dalang di balik lantunan sunyi yang menghantui istana itu... *DIA MENCIPTAKAN LAGUNYA SENDIRI*.
You Might Also Like: Agen Skincare Bisnis Sampingan
