Cerita Seru: Janji Yang Tertulis Di Langit Kelam



## Janji yang Tertulis di Langit Kelam Hembusan angin malam menusuk tulang, membawa aroma cendana dan debu. Di paviliun usang, Yan Mei menatap langit malam Nanjing. Bintang-bintang berkelap-kelip samar, nyaris tertutup kabut kelabu. Ia merasa... *aneh*. Seolah ada memori yang terkubur dalam jiwanya, gambar-gambar fragmentaris tentang sutra merah, pedang berlumuran darah, dan janji yang dilanggar. Yan Mei adalah seorang arsitek muda yang brilian, namun dihantui mimpi buruk sejak kecil. Mimpi tentang *dirinya* berdiri di tengah medan perang, mengenakan baju zirah seorang jenderal wanita, dan dikhianati oleh orang yang paling dicintainya. Mimpi itu begitu nyata, hingga ia sering terbangun dengan air mata membasahi pipi. Suatu malam, saat merancang restorasi kuil kuno di pinggiran kota, Yan Mei menemukan sebuah kotak kayu berukir naga. Di dalamnya, tergeletak selembar kain sutra usang, bergambar pola awan dan *BURUNG PHOENIX*. Jantungnya berdebar kencang. Pola yang sama persis dengan bordiran di jubah dalam mimpinya. Sejak saat itu, potongan-potongan memori mulai bermunculan lebih sering. Ia mengingat namanya di kehidupan sebelumnya: Jenderal Lin Yue. Ia mengingat cintanya pada Kaisar Zhu, yang berjanji akan menikahinya setelah memenangkan perang. Ia mengingat senyumnya saat meracun minumannya, saat menusuk punggungnya dengan belati. **PENGKHIANATAN!** Rasa sakitnya begitu *MENDALAM*, begitu **NYATA**. Yan Mei mulai mencari tahu tentang sejarah Kaisar Zhu. Ia menemukan bahwa Kaisar Zhu dikenal karena kejamannya, ambisinya yang tak terbatas, dan... istrinya, Permaisuri Xiao. Permaisuri yang selalu mengenakan jepit rambut emas berbentuk burung phoenix. Dan kemudian, ia bertemu dengannya. Li Wei, seorang kolektor barang antik kaya raya, yang menawar kuil kuno yang sedang direstorasi. Li Wei memiliki aura kekuasaan yang sama dengan Kaisar Zhu dalam mimpinya. Tatapannya dingin, penuh perhitungan, dan... *FAMILIAR*. Yan Mei tahu, dalam lubuk hatinya, Li Wei adalah reinkarnasi Kaisar Zhu. Balas dendam? Membunuhnya? Tidak. Itu terlalu mudah. Yan Mei memilih jalan yang lebih halus. Ia menggunakan pengetahuannya tentang sejarah kuil untuk menempatkan artefak *terkunci* di lokasi strategis. Artefak yang akan menanamkan bibit keraguan dalam benak Li Wei, bibit penyesalan atas kejahatannya di masa lalu. Ia menerima tawaran Li Wei untuk bekerja dengannya, membangun kerajaan bisnisnya. Ia menggunakan keahliannya untuk membentuk *takdir* Li Wei, mengarahkannya menuju kehancuran yang tak terhindarkan, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan **KEBENARAN**. Suatu malam, saat langit Nanjing kembali tertutup kabut kelabu, Li Wei berdiri di balkon, menatap Yan Mei. "Kau... kau mengingatkanku pada seseorang," gumamnya, suaranya serak. Yan Mei hanya tersenyum tipis. "Mungkin... seseorang dari masa lalu." Li Wei menggenggam dadanya, rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. "Aku... aku menyesal." Yan Mei menatapnya tanpa ekspresi. "Penyesalan tidak bisa menghapus apa yang telah dilakukan." Li Wei berlutut, memohon ampun. Yan Mei berbalik, berjalan pergi. Kehidupan ini, dan kehidupannya sebelumnya, akhirnya selesai. Di balkon, Li Wei menatap langit, matanya berkaca-kaca. "Tunggu aku... *Yue Er*, aku akan menemukanmu... di kehidupan selanjutnya." Seribu tahun dari sekarang, mungkin kita akan bertemu lagi, dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi.
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Digigit Komodo Simak

Post a Comment

Previous Post Next Post