Baiklah, inilah kisah modern *dracin* berjudul 'Ia Membaca Chat Lama, Tapi Tak Pernah Balas': **Ia Membaca Chat Lama, Tapi Tak Pernah Balas** Hujan Kota Jakarta malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan hanya karena suhu yang menusuk tulang, tapi juga karena hampa yang menggerogoti jiwanya. Di kafe kecil dekat kantornya, di tengah aroma kopi robusta yang kuat, Anya kembali *SCROLLING* tanpa henti. Jari-jarinya menari di layar ponsel, menelusuri jejak digital yang ditinggalkan olehnya dan Arya. Percakapan lama. Chat yang dipenuhi *emoji* konyol, janji manis di bawah bintang-bintang digital, dan sisa-sisa tawa yang kini terasa begitu menyakitkan. *'Semalam aku bermimpi tentang kita, Anya...'*, tulis Arya di salah satu chat. Anya memejamkan mata. Mimpi itu kini terasa seperti pengkhianatan. Mereka bertemu di aplikasi kencan. Anya, seorang desainer grafis yang idealis, dan Arya, seorang *programmer* dengan sejuta ide di kepalanya. Cinta mereka tumbuh di antara notifikasi, *video call* larut malam, dan playlist lagu yang saling mereka bagi. Dulu, setiap chat darinya terasa seperti mentari pagi. Sekarang, hanya ada **KEHENINGAN**. Anya tahu, Arya *membaca* pesannya. Tanda centang biru yang kejam selalu ada. Tapi balasannya? Nol besar. Absen. Hampa. Ia sudah mencoba berbagai cara. Menanyakan kabarnya, menceritakan harinya, bahkan mengirimkan foto kucingnya yang lucu. Semuanya sia-sia. Misteri ini menggerogoti hatinya. Apa yang terjadi? Apakah ia melakukan sesuatu yang salah? Apakah Arya menemukan orang lain? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia berusaha mencari jawaban di balik setiap pesan, setiap *timestamp*, setiap emoji yang mereka kirimkan dulu. Suatu malam, Anya tidak sengaja menemukan sebuah file di laptop Arya. File itu berisi catatan-catatan kecil, ide-ide gila, dan... *password* untuk akun media sosialnya. Dengan jantung berdebar, Anya membuka akun Instagram Arya. Dan di sanalah ia menemukannya. Sebuah foto. Arya, di sebuah rumah sakit, tersenyum lemah. Captionnya berbunyi: *'Sedang berjuang melawan penyakit ini. Maafkan aku, Anya. Aku tidak ingin membebanimu...'*. Anya tersentak. Penyakit? Ia tidak tahu apa-apa. Semua ini terjadi di belakangnya, dalam diam, tanpa sepatah kata pun. Air matanya mengalir deras, membasahi layar ponselnya. Ia merasa bersalah, marah, dan hancur secara bersamaan. Ini bukan cinta yang hilang. Ini adalah **RAHASIA** yang membunuh cintanya. Anya menghapus air matanya. Cukup sudah. Ia tidak akan membiarkan dirinya terus terkurung dalam masa lalu. Ia berhak bahagia. Ia berhak mendapatkan seseorang yang jujur padanya. Anya mengetik sebuah pesan terakhir. Bukan untuk memohon, bukan untuk marah, tapi untuk **MELEPASKAN**. *Kepada Arya, sang pemilik hati yang tak bisa kumiliki. Aku tahu sekarang. Semoga kamu menemukan kedamaian. Aku akan baik-baik saja.* Anya menekan tombol kirim. Dan kemudian, dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya, Anya memblokir nomor Arya. Benar-benar mengakhiri semuanya. Ia meneguk habis kopinya, bangkit dari kursinya, dan melangkah keluar dari kafe. Hujan sudah reda. Langit Jakarta malam itu terlihat begitu luas, begitu kosong... *tapi begitu menjanjikan.*
You Might Also Like: Distributor Skincare Fleksibel Kerja_0843787455
