Cerpen Seru: Ia Mengetik "Aku Kangen" Lalu Menghapusnya Seperti Dulu Ia Menghapusku



**Ia Mengetik "Aku Kangen" Lalu Menghapusnya Seperti Dulu Ia Menghapusku** Angin musim gugur menyapu daun-daun **merah** di Kuil Lingyin, Hangzhou. Di antara aroma dupa dan gemericik air mancur batu, Lin Mei, seorang penulis novel daring yang tengah naik daun, merasa ada sesuatu yang aneh menggelayuti hatinya. Sesuatu yang *familiar* sekaligus **menyakitkan**. Ia sering kali bermimpi tentang taman bunga persik yang diterangi lentera, suara seruling yang merdu, dan seorang pria dengan senyum yang **menghancurkan**. Di kehidupan ini, Lin Mei hidup sederhana. Ia menikmati teh Longjing, memelihara kucing bernama Yuanyang, dan larut dalam menciptakan karakter-karakter fiksi yang kuat. Namun, ingatan-ingatan samar terus menggerogotinya. Fragmen-fragmen masa lalu muncul bagai pecahan kaca, menyakiti setiap kali disentuh. Suatu sore, ketika sedang menulis adegan romantis untuk novelnya, Lin Mei tiba-tiba *berhenti*. Jari-jarinya terpaku di atas *keyboard*. Ia merasa ditarik ke masa lalu. Gambaran seorang pria dengan jubah sutra **hitam** muncul di benaknya. Pria itu, Li Wei, menjanjikan cinta abadi di bawah rembulan. Pria itu pula yang, di bawah rembulan yang sama, menikamnya dengan penghianatan. Ingatan itu begitu ***jelas*** hingga Lin Mei merasakan sakitnya tikaman itu di dadanya. Li Wei, Pangeran Ketiga Dinasti Song, yang ia cintai dengan segenap jiwa, ternyata menggunakan cintanya untuk menyingkirkan saingan politiknya. Ia *dikhianati*, *dikorbankan*, *dihapus* dari sejarah. Di dunia modern ini, Li Wei bereinkarnasi menjadi Zhang Wei, seorang CEO muda yang karismatik dan sukses. Mereka bertemu di sebuah acara penghargaan. Saat tatapan mereka bertemu, Lin Mei merasakan *gelombang* energi yang kuat. Ia tahu. Ia *tahu* siapa pria itu. Zhang Wei mencoba mendekati Lin Mei. Ia mengirimkan bunga, mengajak makan malam, bahkan menawarkan untuk membeli hak cipta novelnya. Lin Mei menolak semuanya dengan *elegan*. Ia tak menginginkan balas dendam yang vulgar. Balas dendamnya adalah **kesuksesannya**, **kemampuannya** untuk memilih jalannya sendiri. Suatu malam, setelah menerima pesan singkat dari Zhang Wei, Lin Mei mengetik, "Aku kangen," lalu menghapusnya. Seperti dulu ia menghapusnya. Ia membiarkan Zhang Wei terperangkap dalam jaring kerinduan yang tak terbalas. Ia membiarkannya *merasakan* apa yang ia rasakan seribu tahun lalu. Lin Mei kemudian meluncurkan novel terbarunya, sebuah kisah tentang seorang wanita yang bangkit dari penghianatan untuk menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri. Novel itu menjadi *bestseller*, mengangkat namanya ke puncak popularitas. Zhang Wei, yang hadir dalam acara peluncuran buku itu, menatapnya dengan tatapan *penuh penyesalan*. Di layar komputernya, Lin Mei membuka dokumen baru. Jari-jarinya menari di atas *keyboard*, mulai menulis bab pertama dari kisah barunya. Sebuah kisah tentang janji yang akan ditepati, suatu hari nanti, entah di kehidupan yang mana. *Mungkin di kehidupan selanjutnya, aku akan membalas dendam dengan cara yang lebih manis.*
You Might Also Like: Drama Abiss Langit Yang Mengutuk

Post a Comment

Previous Post Next Post