Aku Menari di Pesta Kemenanganmu, Tapi Hatiku Sudah Kalah.
Babak 1: Bayangan di Bawah Lentera Air
Desir angin malam membawa aroma dupa cendana dan kekalahan yang menyesakkan. Di tepi Danau Giok, lentera-lentera air berayun perlahan, memantulkan cahaya pucat bulan purnama. Di dunia manusia, ini adalah malam perayaan – kemenangan Kaisar Li Wei atas pemberontakan klan Serigala Perak. Tapi di dunia roh, tempat arwah penasaran berbisik di antara pepohonan sakura yang mekar, malam ini adalah awal dari babak baru dalam takdirku.
Namaku Mei Lian. Atau, begitulah aku dulu dikenal.
Aku berdiri di ambang antara dua dunia, merasakan ketegangan yang membungkam. Di kejauhan, dari paviliun Kaisar, terdengar riuh tawa dan gemerincing gelas anggur. Aku bisa melihatnya, Kaisar Li Wei, tampan dengan jubah keemasannya, mengangkat piala kemenangan.
Dulu, aku adalah penari istananya, kekasih rahasianya. Dulu, aku rela memberikan segalanya untuknya. Tapi semua itu sebelum malam TRAGIS itu, malam di mana aku mati – atau begitulah mereka pikir.
Bayanganku sendiri memanjang di atas air, berbisik dengan suara yang bukan milikku, "Kematianmu adalah kelahiranmu, Mei Lian. Takdirmu terukir di kedua dunia."
Bulan purnama, saksi bisu segala rahasia, seolah berbisik memanggil namaku, "Mei... Lian... Me... Lian..."
Babak 2: Dunia Roh dan Janji yang Terukir di Jiwa
Dunia roh adalah labirin mimpi dan kenangan. Di sini, waktu kehilangan maknanya. Aku bertemu dengan Penjaga Gerbang Abadi, sosok berjubah hitam dengan mata sekelam obsidian. Dia mengungkap kebenaran yang menggetarkan jiwaku: kematianku di dunia manusia adalah tipuan, sebuah tangga menuju takdir yang jauh lebih besar. Aku terpilih menjadi Jembatan antara dunia manusia dan dunia roh, pelindung keseimbangan yang rapuh.
"Kaisar Li Wei tahu tentang keberadaanmu di sini," kata Penjaga itu dengan suara berat. "Dia mencarimu, bukan sebagai kekasih, tapi sebagai kunci."
Kunci untuk apa? Pertanyaan itu membakar hatiku.
Aku mulai berlatih mengendalikan kekuatan rohku, dibimbing oleh arwah-arwah bijak yang telah lama mati. Aku belajar membaca bayangan, berbicara dengan angin, dan menenun mantra dari cahaya bulan. Setiap latihan terasa seperti membuka lapisan demi lapisan rahasia yang tersembunyi.
Aku bertemu dengan sosok misterius bernama Bai Ze, seorang roh rubah dengan sembilan ekor yang berkilauan. Dia mengaku sebagai pelindungku, pembimbingku. Dia bercerita tentang ramalan kuno, tentang seorang wanita yang akan menyelamatkan kedua dunia dari kegelapan abadi.
"Kaulah wanita itu, Mei Lian," bisiknya, matanya berkilat misterius. "Tapi jalanmu penuh dengan pengkhianatan."
Babak 3: Pesta Kemenangan dan Kebenaran yang Menyayat Hati
Aku kembali ke dunia manusia, menyelinap ke pesta kemenangan Kaisar. Aku menari, bukan sebagai Mei Lian, sang penari istana, tapi sebagai roh penjaga, mengenakan jubah perak yang berkilauan.
Saat aku menari di hadapan Kaisar Li Wei, matanya memancarkan sesuatu yang berbeda. Bukan lagi cinta, tapi ketertarikan yang dingin, kalkulatif.
"Aku tahu kau di sini, Mei Lian," bisiknya saat dia mendekatiku. "Aku tahu kau hidup."
Dia memegang tanganku, dan aku merasakan sentuhan kekuatan roh yang aneh, gelap.
"Kaulah kuncinya, Mei Lian. Kunci untuk membuka Gerbang Abadi dan mendapatkan kekuatan abadi," ujarnya dengan senyum dingin.
Hatiku hancur berkeping-keping. Cinta yang aku pikir tulus ternyata hanyalah alat untuk mencapai ambisinya.
Bai Ze muncul di sampingku, melindungiku dari aura gelap Kaisar. "Dia memanipulasimu sejak awal, Mei Lian. Dia memanfaatkanmu untuk mencapai tujuannya."
Pertarungan pun pecah. Kaisar Li Wei, yang ternyata mampu mengendalikan kekuatan roh gelap, melawan kami dengan kejam. Di tengah pertempuran, aku melihat sekilas masa lalu – bukan masa laluku, tapi masa lalu Kaisar Li Wei. Aku melihatnya membuat perjanjian dengan entitas kegelapan, menjanjikan jiwaku sebagai imbalan atas kekuasaan.
Babak 4: Pilihan dan Mantra yang Menggantung
Akhirnya, aku berdiri di hadapan Kaisar Li Wei, pedang roh di tanganku. Aku harus membuat pilihan: menghancurkannya dan menyelamatkan kedua dunia, atau membiarkan kegelapan menelan segalanya.
Tapi siapa sebenarnya yang mencintai? Apakah Bai Ze, dengan semua janji dan rahasianya, benar-benar tulus? Atau apakah dia juga hanya memainkan peran dalam drama takdir ini?
Kaisar Li Wei tersenyum sinis. "Kau tidak akan membunuhku, Mei Lian. Karena jika kau melakukannya, kau akan menghancurkan dirimu sendiri."
Aku menutup mata, merasakan kekuatan rohku mengalir deras. Aku mengucapkan mantra kuno, mantra yang akan memutuskan takdir kami semua.
Karena di setiap awal, ada akhir yang tersembunyi, dan di setiap akhir, ada awal yang dilupakan.
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Bertemu Belut Jangan